Butuh Donasi

12 Tahun Mengidap Hydrocephallus

Tidak hanya Siti, sejak tahun 2016 lalu, sang ayah juga mengalami pembengkakan jantung. Terakhir, pasang ring pada …

PIlih Donasi Anda

Tranfusi Darah
 

PIlih Donasi Anda

 

Detail Kondisi

Umurnya sudah menginjak 12 tahun. Pertumbuhannya tidak normal. Kepalanya membesar, tubuh, tangan, dan kakinya tetap kecil. Tapi badannya agak panjang. Dia hanya bisa berkedip, senyum, dan mengoceh seperti balita untuk merespon sekitar. Semua aktivitasnya masih dibantu sang Ibu.


Adalah Siti al-Barokah. Ia divonis menderita Hydrocephallus. Sehari-harinya hanya terbaring di tempat tidur. Ia tidak bisa berlama-lama ditinggal Ibu yang selama ini dengan penuh sabar merawatnya.


Siti, panggilannya, putri ketiga dari pasangan Uminah (37 thn) dan Ramin (59 thn). Ia lahir dengan penyakit Hydrocephallus. Penyakit tersebut diketahui ketika masih di dalam kandungan.


Awalnya pihak bidan puskesmas mengira bahwa kandungan Uminah kembar, tapi untuk memastikan itu perlu dilakukan USG. Akhirnya ketika kandungan menginjak umur 9 bulan dilakukanlah USG. Hasilnya terlihat bahwa ada kelainan pada kepala bayi dalam kandungan. Lalu, lewat proses Cesar, Siti al-Barokah lahir di RSUD Koja Jakarta Utara dengan berat badan 3,7 kg serta panjang 49 cm. Ketika lahir, normal dan baik, hanya saja bagian kepala lebih besar dari pada umumnya bayi baru lahir.


Kondisi Siti kini mulai membaik, namun ia masih harus bolak-balik ke rumah sakit untuk dilakukan proses ukur kepala serta meminimalkan kejang kejang. Sebulan ia harus kontrol ke rumah sakit dua kali, bahkan lebih tergantung dari jadwal dokter.


Tidak hanya Siti, sejak tahun 2016 lalu, sang ayah juga mengalami pembengkakan jantung. Terakhir, pasang ring pada awal tahun 2019 lalu. “Sudah pasang 3 ring,” katanya.


Hingga awal Januari 2021, ayah Siti juga masih cek rutin ke sebuah rumah sakit di Jakarta Timur. Perekonomian keluarga Siti sejak setahun belakang juga sangat memprihatinkan. Hampir 10 bulan, sang ayah tidak bekerja. Sebelumnya jualan es keliling di pasar malam, tetapi karena PSBB ia belum jualan lagi. “Jika ada modal suami saya ingin jualan lagi,” ucap Uminah.


Untuk menopang kehidupan keluarganya, Uminah saat ini bekerja sebagai tukang cuci dan setrika di sebuah perumahan daerah Jati Asih, Bekasi, Jawa Barat.


Pengahasilan sebulan tidak menentu, kadang besar kadang kecil. Tergantung jasa cuci yang dikerjakan. Paling besar dapat mencapai 2 juta rupiah, untuk membiayai ketiga anaknya. Terlebih sejak setahun ini, obat-obatan untuk Siti dan sang suami tidak sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah.

“Obat suami saya yang tidak ditanggung sebulan mencapai 400 ribu dan obat Siti sendiri yang tidak ditanggung mencapai 750 ribu,” ucapnya.

Bagi Uminah, merawat Siti adalah suatu “nikmat” tersendiri. Ia tidak mengeluh dengan kondisi buah hatinya. Meskipun kemungkinan untuk sembuh serta hidup normal sangatlah kecil, tapi ia tidak putus asa. Ia rutin untuk kontrol ke RS Halim, Jakarta Timur, sementara ia tinggal di Jati Asih Bekasi. Ada beberapa dokter yang harus ia temui setiap bulan di antaranya; dokter anak, dokter bedah, dokter gizi, dokter syaraf dan dokter terapi.

Uminah tentu sangat membutuhkan dukungan, baik berupa doa, moril, maupun materiil.


Mari sisihkan sebagian kelebihan rezeki yang Allah titipkan kepada kita untuk membantu dan meringankan beban mereka.